Sebuah Cara Lain Untuk Bersyukur: Penari Tradisional

Sore itu hujan seperti biasa. Intensitasnya tak jauh berbeda seperti hari-hari sebelumnya. Berat dan deras. Kerinduan akan Tuhan menuntut saya untuk merayakan weekend di rumah-NYA. Bukan semata karena saya single sih, tapi karena saya benar-benar rindu pada-NYA. Menembus derasnya hujan dengan sebuah payung, sayapun melambai pada sebuah angkutan umum yang akan membawa saya ke tujuan. Ahhh… derasnya air hujan yang turun membuat angkutan ini jadi lambat jalannya. Tak berapa lama, angkot ini berhenti di ujung jalan. Tiga orang dengan tubuh basah kuyup terburu-buru masuk ke dalamnya. Seorang, tampaknya sudah senja usianya. Sekalipun terburu-buru, namun langkahnyapun tidak lagi gesit. Seorang lagi usianya masih belia, mungkin seharusnya ia baru saja pulang sekolah dan bukan hujan-hujanan di pinggir jalan seperti ini. Seorang lainnya usianya mungkin sekitar 30-an. Masih segar dan cantik. Hampir saja ia terpeleset, sandal jepitnya tertinggal di ujung pintu dan segera diraihnya, “dingin, Mak…” katanya. Tubuhnya menggigil, bekas makeup di wajahnya luntur dan bisa saya bayangkan pasti pedas di mata. Hmmm siapakah mereka? Saya penasaran, mencuri pandang dan dengar, akhirnya saya tahu bahwa mereka adalah penari tradisional keliling. Berbekal niat untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, mereka mengamen dengan menari ke pelosok-pelosok kota dan desa. Duduk di sebelah mereka dengan tubuh kering dan payung di genggaman, saya menarik napas panjang. Teringat permasalahan yang kerap membuat saya sedih, ah… saya tak sepantasnya lebih bersedih ketimbang mereka. Kalau saya masih bisa menggenggam dan menenteng smartphone, mereka hanya bisa menenteng perlengkapan tari dan sampur. Kalau saya masih bisa berjalan di tengah hujan sambil membawa payung, jangankan untuk membeli payung, untuk makan saja mereka masih sangat memperhitungkan dengan sangat hati-hati. Kalau saya masih bisa makan enak di restoran mahal, mereka mungkin penasaran bagaimana rasanya Pizza dan Spaghetti, atau bahkan mereka tak pernah mendengarnya. Saya.. Dengan segala permasalahan yang sering saya keluhkan secara berlebihan, seharusnya jauh lebih bersyukur. SUMBER: vemale.com