Urbanisasi dan Ironi Pembangunan Desa

Urbanisasi menjadi hal yang sangat lumrah dan telah  terjadi di kalangan masyarakat. ‘Janji manis’ akan kehidupan serba glamour dan modern yang ditawarkan oleh se gemerlap kehidupan ibukota agaknya menciptakan bias tersendiri bagi sebagian masyarakat dalam memandang kehidupan perkotaan. Stereotype semacam ini kerap kali hadir di masyarakat dan membuat kecenderungan masyarakat melakukan urbanisasi lebih meningkat pada setiap tahunnya. Bahkan menurut data Badan Pusat Statistik, tingkat urbanisasi pada tahun 2035 di proyeksikan akan mencapai angka 66,6% secara nasional, dan 80% untuk beberapa provinsi di Jawa dan Bali.

Urbanisasi sendiri sebenarnya bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia, hal ini sudah dilakukan sejak zaman pendudukan Belanda. Saat itu, Belanda banyak mendatangkan budak-budak tawanan perang dari daerah asal ke Batavia (Jakarta). Keberadaan kantor-kantor besar dan pabrik saat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga daerah untuk datang ke kota. Lama-kelamaan hal ini menjadi semacam kebiasaan yang sulit dihindari dan terus berkembang di masyarakat, terlebih lagi di era industrialisasi seperti sekarang ini.

Masyarakat cenderung berpikiran bahwa hidup di daerah perkotaan memiliki ‘”privilege”‘-nya tersendiri, mulai dari akses kehidupan yang serba mudah serta potensi berkembang yang tak terbatas. Pemikiran-pemikiran seperti ini bukanlah hal yang sepenuhnya salah, akan tetapi tidak bisa jika terus-menerus kita biarkan mempengaruhi kehidupan di masyarakat kita.

Padahal jika bisa kita ‘tilik’ bersama-sama, pembangunan desa merupakan salah satu hal paling esensial untuk pembangunan sebuah bangsa. Desa merupakan tempat pengembangan diri pertama yang dimiliki oleh anak-anak. Dengan kata lain, kehidupan anak-anak sebenarnya dimulai dari desanya masing-masing.

Pembangunan sebuah desa merupakan sebuah hal yang tidak bisa di nomor sekiankan dalam proses membangun sebuah bangsa. Bayangkan jika seorang anak memulai pendidikan dan pembentukan diri yang baik bahkan sejak ia di desa, diiringi pula dengan pembelajaran sosial yang sama baiknya, tentulah akan membawa anak tersebut pada sebuah kepribadian yang baik dan berkembang optimal.

Tidak dapat dipungkiri, saat ini banyak sekali remaja bahkan anak-anak di desa yang mendambakan kehidupan serba modern di kota.  Mereka berlomba-lomba berangkat ke kota dengan harapan kehidupannya suatu saat dapat berubah. Namun pertanyaannya sekarang, apakah pembangunan desa dapat dilakukan tanpa bantuan dan partisipasi aktif dari para pemuda? Jawabannya adalah Tidak. 

Generasi muda memiliki potensi yang sangat besar dalam membangun sebuah desa. Pemikiran-pemikiran yang solutif, kreatif, dan jauh ke depan sangatlah cocok untuk karakter pemuda pembangun desa. Para generasi muda umumnya sudah terikat dengan kecanggihan teknologi dan kecepatan informasi yang mampu membawa perubahan bagi desanya. Kemampuan-kemampuan semacam ini sangat diperlukan untuk membangun sebuah desa dengan begitu, desa tidak akan lagi tertinggal dan mampu menjalankan kehidupannya secara mandiri.

Pembangunan desa yang dilakukan oleh generasi muda juga tentu tidak dapat dilakukan tanpa ada sokongan atau dukungan yang solid dari para pemimpin di desa. Dukungan ini bukan hanya sekedar memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berkarya namun lebih esensial lagi, para tetua juga dapat memberikan kontrol yang baik kepada para pemuda.  Dengan begitu akan terjadi sebuah kesepahaman yang baik tanpa mengurangi rasa pertanggungjawaban terhadap kehidupan masyarakat desa secara umum.

Adanya pemerataan pembangunan di desa dan di kota sebenarnya adalah salah satu tujuan yang sudah lama didamba-dambakan bangsa Indonesia. Lantas, apa solusi yang kita punya untuk mengurangi kecenderungan masyarakat dalam melakukan urbanisasi?

Mengajarkan anak-anak muatan lokal di institusi resmi seperti sekolah

Anak-anak adalah fase di mana ia banyak menerima informasi dari lingkungannya.. Mengajarkan anak-anak mengenai hal-hal di desanya adalah salah satu cara kita untuk mengenalkan kepada mereka akan desa mereka. Dengan begitu mereka akan mulai mengenal sedikit demi sedikit desa mereka dan menanamkan rasa cinta tersendiri dalam dirinya. Misalnya saja, untuk desa dengan area pertanian yang luas dapat mengajari anak-anak tersebut cara bertani yang baik melalui institusi resmi seperti sekolah.

Membangun desa dengan memaksimalkan potensi lokal

Pembangunan setiap desa tentu tidak dapat dilepaskan dari anggapan “seberapa baik perekonomian di desa tersebut?”. Desa yang baik tentu merupakan desa yang memiliki perekonomian yang baik. Perekonomian yang baik dapat diperoleh dengan cara memaksimalkan potensi lokal secara optimal. Adanya optimalisasi potensi lokal ini tentunya akan membawa pengaruh yang baik bagi desa secara umum.

Menciptakan banyak lapangan pekerjaan di desa

 

 

Menciptakan banyak lapangan kerja di desa tidak hanya dengan memanfaatkan lapangan pekerjaan konvensional yang itu-itu saja di desa. Sebenarnya ada banyak sekali yang dapat dilakukan dengan mengkolaborasikan lapangan kerja konvensional di desa dengan semarak teknologi terbarukan yang ada. Tidak hanya mendapat hasil yang lebih optimal, adanya lokalisasi teknologi juga dapat meningkatkan pemahaman akan teknologi di masyarakat.

 

sumber artikel : https://www.kompasiana.com/vdpsiaasindonesia/5f6bd85ad541df67cb1c7194/urbanisasi-dan-ironi-pembangunan-desa?page=2